Musim Layang-Layang

Khusus di daerah Bali terutama Denpasar dan Badung, dalam beberapa hari ke depan akan ada pembandangan berbeda di langit, puluhan bahkan ratusan layang-layang akan menghiasi langit. Ya, musim layang-layang telah tiba dan seperti biasa, akan ada event yang sudah ditunggu-tunggu para penggemar layang-layang yaitu lomba layang-layang.

Lomba layang-layang yang paling bergengsi biasanya diadakan di pantai Padang Galak, Sanur, dengan diikuti oleh ratusan peserta, biasanya event ini diadakan setiap bulan Juli. Peserta lomba biasanya berupa sekaa (perkumpulan) karena hampir mustahil layangan yang dilombakan dapat dibuat mengudara hanya dengan satu orang.

Selain itu, mulai tahun lalu juga diadakan lomba layang-layang tingkat Internasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara yang digelar di Tanah Lot.

Di Bali, ada beberapa jenis layang-layang atau lebih sering disebut Layangan, yaitu : Bebean (ikan), Pecuk, Janggan. Tiga jenis layangan ini sudah menjadi ciri khas layangan di Bali dan menjadi kategori di berbagai lomba. Selain itu, ada juga kategori layangan kreasi yang bentuknya aneh-aneh.

Di Bali ada satu jenis layangan lagi yang sudah umum yaitu layangan kedis-kedisan (burung), namun jenis layangan ini jarang dijadikan kategori lomba dan kalaupun dimasukkan lomba, layangan ini akan dimasukkan layangan kreasi karena bentuknya mungkin belum ada suatu standar yang pasti.

Selain jenis-jenis layangan diatas, masih ada banyak lagi bentuk dan jenis layangan di Bali, setiap daerah memiliki ciri khas dan selera sendiri dalam pembuatan layangan ini. Khusus di Bali, layangan memang bukan dibuat untuk diadu (talinya dibuat bergesekan hingga putus) seperti di luar Bali, namun lebih pada kepuasan bentuk dan gerakan ketika berada di udara.

Berikut beberapa hal yang biasanya membuat suatu layangan layak untuk dibanggakan di Bali :

Bentuk, Ukuran, Warna

Jika anda membuat layangan, yang pertama kali dilihat biasanya bentuknya, sesuai atau tidak, proporsional atau tidak. Kemudian semakin besar layangan semakin bergengsi pula layangan itu.

Untuk layangan yang diikutkan dalam lomba terutama layangan Bebean dan Janggan, untuk membuat layangan dapat mengudara diperlukan puluhan orang, setidaknya sekitar 10 orang untuk memegang talinya dan 10 orang lagi untuk mengangkat layangan itu.

Disamping, perpaduan warna layangan biasanya juga menjadi perhatian, warna yang paling sering digunakan adalah warna : hitam, merah, putih.

Elog (gerakan ke kiri dan ke kanan)

Ketika layangan berada di udara, gerakan ke kanan dan ke kiri seperti sedang menari di sebut elog. Untuk layangan Bebean, ngelog (melakukan elog) adalah suatu keharusan, sangat jarang layangan Bebean yang tidak ngelog. Elog ini harus sesuai dan tidak berlebihan.

Sangat sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana suatu elog yang begitu indahnya. Untuk layangan Janggan dan Pecuk, layangan ini tidak ngelog, tapi diam saja, tetapi untuk layangan Janggan, gerakan yang dilihat adalah gerakan ekornya yang meliuk-liuk ke atas dan ke bawah seperti gelombang air atau seperti ekor naga.

Ngambun (hilang di atas awan)

Untuk layangan yang berada sangat tinggi di udara, biasanya akan menghilang di atas awan yang melewatinya. Si pemilik layangan akan sangat bangga dan senang melihat layangannya berada di atas awan.

Untuk keadaan cuaca yang normal, dibutuhkan tali layangan sekitar 4 bendel untuk mencapai awan (1 bendel = 10 rol, 1 rol = 10 meter).

Nginep (berada di udara berhari-hari)

Hal terakhir yang dapat membuat si pemili layangan bangga adalah jika layangannya bisa bertahan di udara selama berhari-hari, hal ini memang memerlukan sebuah layangan yang benar-benar stabil di udara, agar tidak jatuh ketika angin bertiup pelan dan tetap kokoh ketika angin bertiup kencang.

Karena angin di musim layangan sangat kencang di siang hari namun pelan bahkan menghilang ketika malam atau menjelang pagi.

Di Bali hampir setiap orang terutama di wilayah pedesaan yang gemar dengan layangan baik tua maupun muda, namun biasanya hanya kaum lelaki. Orang yang sudah kecantol bermain layangan disebut kena pregina (hobi) layangan.

Bahkan ada yang rela menghabiskan jutaan rupiah untuk layangan, seperti layangan yang diikutkan untuk lomba dapat menghabiskan beberapa juta untuk satu layangan. Untungnya penggemar layangan ini biasanya membentuk sekaa (perkumpulan) layangan.

Iklan

7 thoughts on “Musim Layang-Layang

  1. Memang menyenangkan bermain layang-layang…Tapi kalau sampai harga jutaan rasanya kok terlalu mahal yah…Tentunya mahal buat saya, buat yang hobi tentu saja tidak mahal.:) Mengenai mahal atau murah itu relatif, kalau sudah hobi berapa pun dibayar…

    Saya pernah baca katanya peserta dari Bali banyak yang eksis di kejuaraan layang-layang internasional, apa betul?

  2. #1
    Kalau di Bali, untuk biaya bermain layang-layang sih memang lumayan. Tapi bisa juga kok dengan biaya beberapa ratus ribu saja, 🙂

    Sepertinya betul, di Bali saja ada banyak lomba layang-layang setiap tahunnya, bahkan kelas International. Seperti yang di Tanah Lot, itu diadakan 2 tahun sekali.

  3. Tiang dewa saking panjer diantara 3katagori layangan tiang paling suka mainin layangan pecukan…
    Dri umur 7tahun saya suduh tertarik layangan pecuk…karna kalo sudah layangannya naek sampe diatas kepala pasti bakal ada atraksii yg bagus…sampai-sampai dlu saya pernah sampai kesanur hanya untuk melihat pembuatan layangan pecuk ternyata susah-susah gampang…diantra kalian paling suka me buat layangan apa…?salam saya dewa sekaa.BONGOL panjer

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s