Kesunyian Nyepi Caka 1929

Pembuatan Ogoh-Ogoh

Kira-kira sebulan sebelum hari raya Nyepi aku sibuk di banjar dalam pembuatan ogoh-ogoh karena kebetulan aku menjadi seorang ketua pemuda. Walaupun sudah dibentuk panitia tapi dalam pelaksanaannya tentu saja aku ikut sibuk, terutama untuk bekerja di balik layar, seperti mengurus surat-surat, mencari dana bantuan, mengurus keuangan, dll.

Memang sih ini tidak aku urus sendirian karena temen-temen yang lain juga ikut membantu. Pembuatan ogoh-ogoh ini akhirnya menghabiskan dana 8,5 juta termasuk pembelian kostum dan kunsumsi.

Melasti

Bagiku ada yang kurang dalam rangkaian hari raya Nyepi Caka 1929 ini. Karena semestinya 2 hari sebelum Nyepi, merajan Jero Kelodan Kerobokan akan mengadakan upacara Melasti ke pantai Petintenget sebagaimana layaknya pura-pura lainnya.

Tapi ternyata beberapa hari sebelum Melasti, ada seorang yang meninggal yang masih merupakan anggota merajan. Dan upacara Melasti pun batal karena seluruh anggota merajan tentunya leteh (kotor). Dulu kejadian semacam ini pernah terjadi dan kebetulan yang meninggal adalah nenekku, tapi acara Melasti tetap berjalan karena upacara Ngabennya bisa diundur dan nenekku disemayamkan dulu, jadi anggota merajan tidak leteh, tapi khusus anggota keluargaku saja yang tidak ikut Melasti.

Untuk yang kali ini kebetulan yang meninggal adalah seorang anak kecil yang berumur dibawah 1 tahun. Jadi mayatnya tidak bisa disemayamkan, melainkan harus langsung diupacarai (dikubur), bahkan penguburannya dilakukan tengah malam. Karena upacara dilakukan sebelum Melasti jadi seluruh anggota merajan menjadi leteh (kotor) dan Melasti pun batal.

Aku sendiri ada sedikit rasa kecewa karena telah melakukan persiapan seperti latihan megambel dan panitia Melasti pun telah menyiapkan upacara sedemikian rupa. Namun apa boleh buat, aku pun ikut berduka atas meninggalnya anak itu yang tentunya merupakan anggota keluarga besar.

Pengerupukan

Acara pengerupukan untuk Nyepi Caka 1929 dilakukan tanggal 18 Maret 2007. Acara diawali dengan upacara tawur di banjar, kemudian sorenya dilakukan pengarakan ogoh-ogoh keliling Kerobokan. Pengarakan dimulai dari depan balai banjar Anyar Kaja dan berakhir disini pula.

Sayang kali ini tidak ada lomba ogoh-ogoh, karena tahun lalu diadakan lomba dan ogoh-ogoh dari banjarku memperoleh juara 1. Acara ini berlangsung lancar seperti apa yang telah aku rencanakan bersama panitia. Pengarakan ogoh-ogoh dimulai pukul 19.00 dan berakhir kira-kira pukul 22.00. Selesai mengarak ogoh-ogoh, kami (pemuda ST Dwi Tura) dan anggota masyarakat menikamati makanan yang telah disiapkan di banjar.

Kalau dulu selesai pengarakan ogoh-ogoh, ogoh-ogoh akan di bakar, tapi kini ogoh-ogoh tidak dibakar melainkan disimpan agar dapat digunakan lagi tahun depan tentunya dengan perbaikan-perbaikan. Hal ini dilakukan untuk penghematan biaya, karena khusus ogoh-ogoh saja menghabiskan dana 5,4 juta rupiah.

Di tempat-tempat lain pun seperti itu, ogoh-ogoh tidak dibakar tapi dipajang di balai banjar. Bahkan ada yang dijual, seperti ogoh-ogoh dibanjarku yang laku dengan harga 1 juta walaupun tinggal sebagian saja.

Nyepi

Sebenarnya pada saat Nyepi kita dilarang keluar rumah, tapi karena aku menjadi pengurus (ketua) pemuda maka aku bersama beberapa teman ditugaskan oleh pengurus banjar untuk ikut patroli (dengan berjalan kaki) pada saat Nyepi. Jam 9.00 pagi aku keluar rumah dengan pakaian adat lengkap menuju balai banjar untuk bergabung dengan beberapa pecalang dan pengurus banjar.

Ketika berpatroli aku benar-benar merasakan seperti berada di kota mati, terutama di jalan, tidak ada kegiatan dan suara sama sekali. Hanya sesekali terlihat orang yang berada di kawasan rumahnya masing-masing. Siang bolong terasa begitu panas dan sepi, hanya terdengar suara-suara burung dan gesekan daun-daun yang diterpa angin.

Aku juga sempat mampir ke kantor camat yang letaknya bersebelahan dengan balai banjarku. Rupanya disana ada pak camat dan beberapa orang yang juga bersiaga jika terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan. Di kantor camat Kuta Utara ini juga bersiaga satu unit mobil pemadam kebakaran lengkap dengan beberapa personil.

Setelah sempat mengobrol sebentar, aku merasa capek dan ngantuk. Jam 13.00 aku pulang dan tidur sampai pukul 17.00. Jam 18.00 aku keluar rumah lagi dan kembali patroli seperti tadi siang. Namun kini suasana di jalan sedikit berbeda, ada beberapa orang yang keluar rumah walaupun hanya duduk di depan rumahnya masing-masing, mungkin sekedar ingin tahu bagaimana suasana diluar.

Ketika sinar mentari tak terlihat lagi, suasana benar-benar gelap gulita, rasanya sama saja ketika kita membuka mata ataupun menutup mata. Hanya terlihat sesekali cahaya lampu senter yang dibawa pecalang dan orang yang keluar pada waktu itu. Aku sempat ke banjar lagi dan akhirnya pulang pukul 22.00 karena dilanda ngantuk lagi.

Ngembak Geni

Aku bersama sang pujaan hati jalan-jalan ke Air Terjun NungNung yang terletak di kawasan Plaga, Petang. Air terjun tidak kalah bagusnya dengan air terjun Gitgit di Singaraja, bahkan lebih alami namun jalan menuju kesana dari tempat parkir cukup menyulitkan karena sedikit licin. Setelah itu aku menuju ke utara lagi menuju Jembatan Bangkung.

Jembatan ini adalah jembatan baru, kabarnya ini jembatan tertinggi di Asia Tenggara. Entahlah, terpanjang atau tertingi yang jelas jembatan ini memang panjang dan tinggi. Kedua obyek wisata ini, Air Terjun NungNung dan Jembatan Bangkung adalah baru bagiku karena aku baru pertama kali kesana. Lain kali saja aku ceritakan tentang dua obyek wisata ini.

Iklan

3 thoughts on “Kesunyian Nyepi Caka 1929

  1. cerita kamu tentang perayaan nyepi dari pembuatan ogoh-ogoh hingga ngembak geni seru banget. setidaknya aku bisa tahu kalo biaya untuk pembuatan ogoh2 bisa mencapai sebesar itu, asal dana itu benar2 dipakai dengan baik dan sejujur-jujurnya šŸ™‚ aku juga turut berduka cita ya atas meninggalnya salah satu keluargamu. aku penasaran sama daerah obyek wisata yang ada di sana, kapan-kapan cerita yang banyak ya, soalnya aku sendiri tinggal di singaraja dan disini gak ada daerah wisata yang bagus. itu-itu aja jadinya bosan!!!! makasi ya sebelumnya. salam dari singaraja.

  2. #1
    Thanks comment nya.
    Singaraja mana ya? Aku juga punya paman di Singaraja.

    Biaya itu belum seberapa, tahun lalu biaya total generalnya sampai -+ 12 juta, karena ada lomba. Hehehe..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s