RBT Lagu Bali
Tidak tahu bagaimana kalau di daerah lain, apakah lagu daerah menjadi favorit dan disukai atau tidak oleh masyarakat setempat. Tapi kalau di Bali, anda jangan heran, lagu berbahasa Bali cukup disukai oleh masyarakat Bali. Salah satu buktinya adalah dengan semakin banyaknya orang yang menggunakan lagu Bali sebagai RBT. RBT lagu Bali (lagu berbahasa Bali) bahkan ‘mengancam’ lagu berbahasa Indonesia di Bali.
Saya sendiri juga suka dengan lagu berbahasa Bali, tapi sampai saat ini saya belum pernah menggunakan RBT lagu apapun. Tapi hampir setiap hari saya mendengarkan lagu Bali. Banyaknya orang Bali yang menggunakan lagu Bali dan menggunakannnya sebagai RBT mungkin karena kini lagu Bali hadir dengan berbagai aliran musik, tidak kalah dengan lagu berbahasa Indonesia, bedanya hanya pada bahasa yang digunakan.
Ayo maju terus musik Bali…
Punyah di Hari Suci Galungan?
Hari Raya Galungan merupakan hari raya bagi umat beragama Hindu, hari raya ini bahkan terkesan lebih meriah dibanding hari raya Nyepi yang telah diakui oleh pemerintah. Namun saya tidak akan membahas lebih banyak tentang bagaimana dan apa itu Galungan karena telah banyak dibahas oleh Babad Bali disini, dan oleh blogger yang lain disana, disini dan disitu. Atau silahkan tanya Om Google apa itu Galungan.
Sesuai judul, yang ingin saya bicarakan adalah kebiasaan buruk para generasi muda kita, yaitu minum-minuman beralkohol dalam perayaan hari raya Galungan ini. Entah bagaimana di daerah lain, tapi dengan mata dan kepala sendiri saya melihat kebiasaan buruk ini.
Di daerah Kerobokan – Kuta, saat ini sangat kreatif dalam hal Penjor untuk merayakan hari raya Galungan ini, bagi anda yang orang Bali, kalau pernah lewat di daerah Kerobokan ini terutama jalan raya Kerobokan – Canggu khususnya di waktu Galungan, lihatlah bagaimana meriahnya penjor yang ada disana. Bayangkan, biaya yang dihabiskan untuk membuat penjor berkisar antara 200 ribu sampai 1 juta rupiah, bahkan ada yang diatas 1 juta. Memang dari segi biaya ini sangat mahal, tapi dari segi hasilnya, tentu saja sangat memuaskan bagi pemiliknya/pembuatnya yang menganggap biaya itu bukanlah masalah besar.
Bagi saya pribadi, tentu saja saya senang dan juga bangga dalam hal kemeriahan penjor Galungan ini. Namun ada satu hal negatif yang perlu dikurangi bahkan kalau bisa dihilangkan, yaitu minum-minuman sampai mabuk di pinggir jalan setelah selesai memasang penjor di waktu penampahan Galungan. Hal ini sangat banyak saya lihat.
Saya bukanlah orang munafik dan sok suci, namun, alangkah baiknya kalau hal itu kita kurangi dan dihilangkan sedikit demi sedikit. Galungan ini akan menjadi lebih suci dan damai tanpa mabuk (punyah)…
Rahajeng Galungan Lan Kuningan
Rahajeng Rahinan Jagat
Galungan Lan Kuningan
Semoga kedamaian selalu ada di seluruh dunia,
dimulai dari dalam lubuk hati kita semua….

Keadilan
Blonk : “Matiang, matiang, matiang!!”
Cenk : “Nyen matiang?”
Blonk : “Bojoge…”
Blonk : “Ngematiang bojog monto jeg keweh ajan, cang nawang carane ngematiang bojoge ento”
Cenk : “Engken carane?”
Blonk : “Dokter Asahari gen ajak meseka”
Cenk : “Trus engken?”
Blonk : “Idihin bom telu, keplugin bungut bojoge, mati nas ne”
Blonk : “Jangankan bojog, Kuta Jimbaran gen benyah”
Cenk : “Bungut cie, nyanan juk nas ci jak polisi”
Blonk : “Ajakne ngudiang, ajakne makan?”
Cenk : “Juk nas ci, trus hukum mati”
Blonk : “Hukum gen mati, jelemane nu idup”
Blonk : “To tingalin Amrozi jak Imam Samudra, kayang jani nu idup”
Blonk : “Jani kal demo ajak masyarakat di LP Kerobokan, ibi sube plaibange ke Nusa Kambangan jak polisine”
Blonk : “Ngenah di tipi, negakin kapal terbang, GRATIS!!, sing mayah”
Blonk : “Ci taen negakin kapal terbang?”
Cenk : “….????”
Beginilah hukum di negara kita.. Kadang keadilan sulit didapatkan, adil bagi mereka belum tentu adil bagi kita, begitu sebaliknya. Kalau sudah begitu, dimanakah letak keadilan?
Melukat Ke Sudemala, Bangli
Tanggal 1 ini aku diajak melukat ke sebuah tempat yang diberi nama Sudemala. Disana terdapat sebuah pura kecil di pinggir sungai, tepatnya di atas tebing. Pura Sudemala terletak di banjar Sedit, desa Belabang, Bangli. Kalau dari pusat kota Bangli, arahnya menuju selatan, kira-kira 10 menit. Untuk mencapai pura ini, kita melewati jalan menurun yang cukup terjal.
Melukat berarti membersihkan diri baik secara jasmani maupun rohani. Di Sudemala aku bersama calon mertua dan kerabat yang punya rumah di Bangli berendam di sebuah sungai dangkal yang airnya jernih sekali dan juga dingin. Di sebelah sungai, tepatnya di bawah pura Sudemala, ada 10 pancuran air yang berasal dari rembesan tebing di pinggir sungai itu. Setelah berendam, kami membersihkan diri di pancuran itu, menurut tradisi, pancuran yang digunakan dimulai dari yang paling kiri, kemudian pindah ke kanan satu persatu. Segarnya air dan sejuknya udara membuat pikiran pun menjadi lebih fresh.
Ada yang unik disini, tidak ada tempat khusus yang membedakan pria dan wanita, semua sama, bahkan aku sendiri melihat seorang perempuan muda yang berendam tanpa sehelai benang pun. Tentu saja hanya terlihat dari belakang, tapi jujur, tidak ada pikiran kotor yang terlintas.
Selesai membersihkan diri dan berganti pakaian dengan yang bersih, kami beranjak ke pura Sudemala, dengan dipimpin seorang pemangku yang memang stand by disana, kami menghaturkan sembah di pura. Di perjalanan pulang, namun belum jauh dari lokasi Sudemala, kami makan hidangan ikan mujair di sebuah rumah makan sederhana, ditambahkan dengan rujak khas Bangli yang diberi nama Rujak Bangli. Rujak ini sebenarnya lebih tepat dinamakan Loloh. Sayang sekali aku tidak membawa kameraku, jadi tidak ada dokumentasi untuk ini.