Hari Pendidikan Nasional – Sebuah Renungan

2 Mei 2007
Sebagai seorang dosen dan juga guru, walaupun belum genap satu tahun berkecimpung di dunia pendidikan, saya tetap mencoba untuk menulis sesuatu tentang Hari Pendidikan Nasional. Terus terang, saya merasa gaung hari pendidikan nasional semakin lama semakin surut, tertutupi oleh berbagai macam persoalan lainnya. Seperti kemarin yang merupakan Hari Buruh Sedunia, semua stasiun TV menyiarkan berbagai kegiatan demonstrasi yang tejadi di berbagai daerah yang ujung-ujungnya hampir pasti diakhiri dengan bentrokan dan hal-hal yang berbau anarkis.

Kembali pada Hari Pendidikan Nasional, mungkin ada baiknya kita menyempatkan diri berpikir sejenak, tentang bagaimana kondisi kondisi bangsa Indonesia saat ini, bagaimana kondisi lingkungan di sekitar kita. Saya tidak bermaksud mengajak untuk menerapkan nasionalisme yang mungkin kalau mau jujur hanya segelintir orang yang masih memiliki rasa itu. Tapi marilah kita bersama-sama mencoba untuk berbuat sesuatu yang bemanfaat bagi negara. Kalau mungkin kata “negara” terlalu “tinggi“, ganti saja dengan kata “orang lain“. Mencoba berbuat sesuatu yang bermanfaat bagi orang lain, bagi lingkungan di sekitar kita.

Salah satu hal yang bisa kita lakukan adalah dengan semakin mengembangkan pendidikan, terutama bagi insan yang terlibat dalam pendidikan ini, seperti para guru, dosen, pengajar, yayasan pendidikan, dan lainnya. Sebisa mungkin, janganlah hanya membuat pendidikan sebagai ajang untuk mengumpulkan uang, yaitu pendidikan yang berorientasi pada uang. Mungkin lebih sederhananya, “jangan mikirin uang melulu”, tapi perhatikanlah kualitas pendidikan yang bisa kita berikan. Jangan hanya memikirkan untung yang didapat dalam menjalankan pendidikan.

Memang, tanpa mencari untung suatu pendidikan tidak akan bisa berjalan normal, tapi hendaknya semua tetap proporsional dan tidak berlebihan. Semua orang tentunya ingin mengenyam pendidikan dengan biaya yang semurah-murahnya, bahkan kalau bisa pendidikan gratis, tapi semua itu hampir mustahil. Jangan pula hanya berharap pada pemerintah untuk mendapat pendidikan gratis, tapi kita yang sebagai insan di bidang pendidikan yang mungkin bisa membantu pemerintah untuk mewujudkan pendidikan murah walaupun tidak gratis.

Diakui, hal ini sangat sulit untuk diwujudkan, namun marilah kita sama-sama berusaha. Semoga apa yang kita lakukan untuk meningkatkan kualitas pendidikan dapat berguna bagi kita semua.

12 Tanggapan ke “Hari Pendidikan Nasional – Sebuah Renungan”


  1. 1 imcw Mei 3, 2007 pukul 3:53 am

    terima kasih atas renungannya bli…;)

  2. 3 deking Mei 3, 2007 pukul 7:03 pm

    Gak cuma sekedar perayaan kan?
    Yang penting adalah refleksi diri guna perubahan dan perbaikan

  3. 4 ankerzone Mei 3, 2007 pukul 11:52 pm

    #3
    Betul sekali, bahkan kalau bisa dirayakannya sederhana saja. Lebih baik dana perayaan diberikan kepada orang yg membutuhkan untuk biaya pendidikan dasar..
    :-)

  4. 5 super_kecil Mei 5, 2007 pukul 5:57 am

    usaha..
    penting sekali
    hidup pendidikan indonesia
    (huek!!! bo’ong banget)

  5. 7 ario dipoyono Mei 7, 2007 pukul 10:17 am

    sesungguhnya klo di bandingkan dengan luar sono… nasib guru and dosen yang udah berbaik hati memberi ilmu kepada kita sangatlah tragis sekali, dilihat dari salary (biar gak terlalu kasar) itu udah jauh salari guru SD hanya untuk hidup sekeluarga sampe bulan selanjutnya

    Untuk guru SMP ma SMA salarynya juga ga jauh beda mungkin agak mending tipis bisa untuk kredit sepeda motor Honda 70, gaji dosen dan profesor kita sangat memprihatinkan mereka mendapatkan imbalan yang jauh dari dinamakan WAJAR.

    Mangkanya banyak dosen yang nyambiii… itu sebenarnya bukan salah dosennya (sehingga kadangkala gak fokus pada pekerjaannya) tetapi salahkan pada yang memberi tunjangan hidup yang kurang sesuai.

    KLo dari segi yang lain yaitu fasilitas, hanya satu kata yang bisa aku ungkapakan. Meminjam ungkapan dari mas Tukul Arwana “…nDeso”

  6. 8 ankerzone Mei 8, 2007 pukul 12:16 am

    #7
    Ungkapan anda benar juga. Dalam urusan gaji kita memang masih kurang, lihat saja gaji saya, hanya Rp. 5.700,- per sks. Untungnya masih ada gaji pokok yang bisa menutupi.

    Tentang fasilitas, mungkin kata yang lebih tepat adalah “tidak merata”, lihat saja bagaimana perbedaan fasilitas sekolah di kota dan di desa, perbedaan fasilitas sekolah mahal dan sekolah murah. Kalau begini terus, “yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin”.

  7. 9 Ari Lesmana Oktober 19, 2007 pukul 10:24 am

    tidak cuma sekedar perayaan ajakan?
    Yang penting tindak lanjut masalah pendidikan di Indonesia, gimana caranya untuk merenungi masalah pendidikan di indonesia biat maju dan berhasil di era globalisasi ini

  8. 10 Ari Lesmana Oktober 19, 2007 pukul 10:27 am

    Yang penting tindak lanjut masalah pendidikan di Indonesia, gimana caranya untuk merenungi masalah pendidikan di indonesia biat maju dan berhasil di era globalisasi ini

  9. 11 wira Oktober 19, 2007 pukul 3:12 pm

    #Ari Lesmana
    tindak lanjutnya bisa dimulai dari hal yang kecil, misalnya bagaimana agar seorang pendidik benar2 melaksanakan tugasnya, tentunya dengan imbal balik dari pihak yayasan/pemerintah juga.


  1. 1 wirautama.net » Blog Archive » Selamat Hari Pendidikan Nasional 2008 Lacak balik pada Mei 2, 2008 pukul 4:35 am

Tinggalkan Balasan