Happy Birthday (a note in my diary)
Kamis, 31 Mei 2007, 00:10
”Happy Birthday”, tak terasa, sekarang umurku sudah seperempat abad alias 25 tahun. Jujur, aku sendiri tidak sadar, sama sekali tidak sadar, aku memasuki detik, menit dan sebentar lagi jam umurku bertambah. Aku tersadar ketika O2 Atom di sebelahku berdering, dari tadi aku keasikan menonton aksi Jet Li di Trans TV. Ternyata diseberang sana, kurang lebih satu kilometer ke arah timur dari kamarku, ”mamanya anak-anak” meneleponku, mengucapkan kalimat sakral, ”met ulang tahun”. Aku terdiam dan tersenyum dalam hati, hanya ucapan terima kasih yang bisa terucap dari bibir ini. Akhir percakapan singkat penuh makna ini adalah ucapan ”met bobok”. Lalu kuketik diary ini, sambil sesekali melihat aksi Jet Li walaupun tanpa konsentrasi sama sekali. Tak lupa pula kukirim sms ke Comenk, umurku beda tepat 1 tahun dengannya. Eh, jangan-jangan aku mendahului pacarnya, hehehe. Keponakan pertamaku, anak dari kakakku, Gus Yoga, ultahnya juga sama denganku, ”met ultah juga ya Gus”, pasti dia tidak mengerti kata-kataku karena masih kecil. Sms dari Tewel, Comenk, Okto masuk, aku balas lagi dengan ucapan tengkyu so much. Achk… ingin juga aku bercerita banyak tentang segala hal yang terjadi selama ini. Tapi untuk saat ini, cukup ini saja. Aku sibuk… Tapi, tak lupa kuucapkan ” Rahajeng Wanti Warsa, Selamat Ulang Tahun, Happy Birthday”, untuk siapa? Untuk diriku sendiri…
”Terima kasih Tuhan, atas semua yang telah kau berikan untukku, semuanya, Terima Kasih….”
Seorang Guru Harus Sabar
Setelah hampir satu tahun mengajar di sebuah SMK di kawasan Dalung – Bali, aku mencoba berpikir, di awal-awal mengajar, aku memang selalu humoris. Setiap berada di lab komputer ketika mengajar, murid-murid bisa saja aku buat tertawa atau setidaknya tersenyum.
Namun belakangan ini, aku lebih sering menjadi “galak”, dan tidak jarang pula aku mengurut dada. Bagaimana tidak jengkel, sudah setahun aku mengajar, masih saja ada yang “gaptek”. Coba bayangkan, menggunakan mouse saja masih ada yang membuat aku ingin tertawa karena sedih, secara tidak sengaja aku melihat muridku yang melakukan “klik kiri” dan “klik kanan” pada mouse menggunakan jari yang sama yaitu jari telunjuk. Sekilas memang aku ingin tertawa, tapi aku mulai berpikir, apa yang menyebabkan keadaan itu?
Kembali lagi, aku menyalahkan diri sendiri, mungkin aku yang kurang dalam mengajar. Tapi kalau memang benar begitu, tampaknya aku memang harus benar-benar sabar, karena aku sudah sangat sering menyampaikan suatu hal di depan murid, namun tetap saja aku perlu menyampaikannya berulang-ulang. Contoh menggunakan mouse diatas hanya sebagian kecil dari kenyataan yang ada. Memang berbeda sekali dengan ketika kita mengajar sebagai dosen. Sebagai guru, memang benar-benar perlu kesabaran yang tinggi, sepertinya tidak semua orang bisa melakukannya. Mudah-mudahan aku bisa melewati semua ini.
Masalah Ban(lagi) Dan Cuaca
Seri GP Perancis berjalan di luar dugaan, pembalap Suzuki Chris Vermeulen menjadi yang finis di urutan pertama. Dimana pole position sebenarnya dipegang oleh Colin Edward dari Yamaha. Prediksi pun mengarah pada Rossi yang akan merajai sirkuit Le Mans. Di awal balapan Rossi begitu dominan di sirkuit yang banyak tikungan dengan trek lurus yang relatif jarang. Namun cuaca tidak mendukung, karena hujan akhirnya turun dan mengacaukan balapan. Diakui, balapan yang terjadi bukanlah gambaran nyata dari kekuatan para pembalap. Beberapa lap setelah turun hujan, Rossi masih bisa tampil kompetitif, namun lagi-lagi ban yang digunakan Rossi mengalami masalah, sehingga posisinya pun melorot dan hanya finish di posisi 6.
Seri GP Perancis ini sebenarnya diprediksi akan menjadi ajang pembuktian bagi pembalap muda Casey Stoner diatas motor Ducati yang katanya hanya mengandalkan top speed, Ducati ingin membuktikan bahwa Ducati bisa menang di sirkuit yang minim trek lurus. Valentino Rossi pun sudah tidak sabar ingin membalas dendam atas beberapa kekalahan di seri sebelumnya. Namun para penggila MotoGP tentu kecewa tidak bisa menyaksikan pertempuran Rossi vs Stoner. Bagi Stoner, finish di posisi 3 tidaklah mengecewakan karena jarak dengan Rossi di klasemen sementara pun semakin jauh.
Peperangan yang sebenarnya akan kita nantikan di seri-seri selanjutnya, kita semua berharap terjadi pertarungan sengit antaran Rossi dan Stoner dimana balapan terjadi dalam kondisi normal, seperti jamannnya Rossi vs Gibernau beberapa musim yang lalu.
Desktop vs Website
Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat proyek program desktop dari perusahaan paman saya, tapi sayang skill saya sepertinya belum mumpuni untuk mengerjakannya, ditambah lagi waktu yang sepertinya belum mencukupi untuk fokus kesana. Walaupun saya mencoba untuk bekerja sambil belajar, tetap saja belum cukup untuk hal itu. Akhirnya saya mencoba mengajak seorang teman untuk join mengerjakan proyek ini, tapi sayang, dia juga ternyata sibuk. Akhirnya saya menghubungi teman yang belum terlalu saya kenal yang memang profesional untuk proyek seperti ini, saya serahkan proyek ini ke dia dengan terlebih dahulu saya minta mengajukan proposal ke paman saya. Ketika dia ajukan, ternyata harga yang dia tawarkan sangat mahal, saya pun kaget, harganya empat kali lipat dari yang saya bayangkan, atau mungkin saya yang memang tidak tahu harga untuk program jaman sekarang. Saya pun tidak tahu bagaimana kelanjutan proyek itu, namun sepertinya gagal karena saya tahu paman saya tidak mungkin mau dengan harga sekian.
Setelah chat dengan seorang teman malam ini, saya menjadi menyimpulkan sesuatu walaupun tanpa bukti. Saya pikir mengapa harga sebuah program desktop menjadi melambung tinggi dibandingkan dengan harga proyek website. Ini mungkin dikarenakan kebanyakan programmer lebih suka mengerjakan proyek website ketimbang program desktop. Ini terbukti dari sekian teman-teman seperjuangan yang saya kenal semuanya lebih fokus ke web dibanding desktop. kata mereka program desktop ini kompleks, bribet dan mungkin uang yang didapat tidak sebanding dengan keringat yang menetes di dahi. Tapi mengerjakan proyek website lebih mudah, lebih mengasikkan karena tentunya kita sudah pasti berhubungan dengan yang namanya internet. Mudah-mudahan saja persaingan yang ada tetap sehat, semoga temen-temen tidak terlalu menurunkan harga demi mendapatkan client sehingga harga pasaran untuk website tetap bisa dijadikan tambahan agar dapur tetap ngepul…
Musim Layang-Layang
Khusus di daerah Bali terutama Denpasar dan Badung, dalam beberapa hari ke depan akan ada pembandangan berbeda di langit, puluhan bahkan ratusan layang-layang akan menghiasi langit. Ya, musim layang-layang telah tiba dan seperti biasa, akan ada event yang sudah ditunggu-tunggu para penggemar layang-layang yaitu lomba layang-layang. Lomba layang-layang yang paling bergengsi biasanya diadakan di pantai Padang Galak, Sanur, dengan diikuti oleh ratusan peserta, biasanya event ini diadakan setiap bulan Juli. Peserta lomba biasanya berupa sekaa (perkumpulan) karena hampir mustahil layangan yang dilombakan dapat dibuat mengudara hanya dengan satu orang. Selain itu, mulai tahun lalu juga diadakan lomba layang-layang tingkat Internasional yang diikuti oleh peserta dari berbagai negara yang digelar di Tanah Lot.
Di Bali, ada beberapa jenis layang-layang atau lebih sering disebut Layangan, yaitu : Bebean (ikan), Pecuk, Janggan. Tiga jenis layangan ini sudah menjadi ciri khas layangan di Bali dan menjadi kategori di berbagai lomba. Selain itu, ada juga kategori layangan kreasi yang bentuknya aneh-aneh. Di Bali ada satu jenis layangan lagi yang sudah umum yaitu layangan kedis-kedisan (burung), namun jenis layangan ini jarang dijadikan kategori lomba dan kalaupun dimasukkan lomba, layangan ini akan dimasukkan layangan kreasi karena bentuknya mungkin belum ada suatu standar yang pasti.
Selain jenis-jenis layangan diatas, masih ada banyak lagi bentuk dan jenis layangan di Bali, setiap daerah memiliki ciri khas dan selera sendiri dalam pembuatan layangan ini. Khusus di Bali, layangan memang bukan dibuat untuk diadu (talinya dibuat bergesekan hingga putus) seperti di luar Bali, namun lebih pada kepuasan bentuk dan gerakan ketika berada di udara. Berikut beberapa hal yang biasanya membuat suatu layangan layak untuk dibanggakan di Bali :
- Bentuk, Ukuran, Warna
- Elog (gerakan ke kiri dan ke kanan)
- Ngambun (hilang di atas awan)
- Nginep (berada di udara berhari-hari)
Jika anda membuat layangan, yang pertama kali dilihat biasanya bentuknya, sesuai atau tidak, proporsional atau tidak. Kemudian semakin besar layangan semakin bergengsi pula layangan itu. Untuk layangan yang diikutkan dalam lomba terutama layangan Bebean dan Janggan, untuk membuat layangan dapat mengudara diperlukan puluhan orang, setidaknya sekitar 10 orang untuk memegang talinya dan 10 orang lagi untuk mengangkat layangan itu. Disamping, perpaduan warna layangan biasanya juga menjadi perhatian, warna yang paling sering digunakan adalah warna : hitam, merah, putih.
Ketika layangan berada di udara, gerakan ke kanan dan ke kiri seperti sedang menari di sebut elog. Untuk layangan Bebean, ngelog (melakukan elog) adalah suatu keharusan, sangat jarang layangan Bebean yang tidak ngelog. Elog ini harus sesuai dan tidak berlebihan. Sangat sulit untuk mengungkapkan dengan kata-kata bagaimana suatu elog yang begitu indahnya. Untuk layangan Janggan dan Pecuk, layangan ini tidak ngelog, tapi diam saja, tetapi untuk layangan Janggan, gerakan yang dilihat adalah gerakan ekornya yang meliuk-liuk ke atas dan ke bawah seperti gelombang air atau seperti ekor naga.
Untuk layangan yang berada sangat tinggi di udara, biasanya akan menghilang di atas awan yang melewatinya. Si pemilik layangan akan sangat bangga dan senang melihat layangannya berada di atas awan. Untuk keadaan cuaca yang normal, dibutuhkan tali layangan sekitar 4 bendel untuk mencapai awan (1 bendel = 10 rol, 1 rol = 10 meter).
Hal terakhir yang dapat membuat si pemili layangan bangga adalah jika layangannya bisa bertahan di udara selama berhari-hari, hal ini memang memerlukan sebuah layangan yang benar-benar stabil di udara, agar tidak jatuh ketika angin bertiup pelan dan tetap kokoh ketika angin bertiup kencang. Karena angin di musim layangan sangat kencang di siang hari namun pelan bahkan menghilang ketika malam atau menjelang pagi.
Di Bali hampir setiap orang terutama di wilayah pedesaan yang gemar dengan layangan baik tua maupun muda, namun biasanya hanya kaum lelaki. Orang yang sudah kecantol bermain layangan disebut kena pregina (hobi) layangan. Bahkan ada yang rela menghabiskan jutaan rupiah untuk layangan, seperti layangan yang diikutkan untuk lomba dapat menghabiskan beberapa juta untuk satu layangan. Untungnya penggemar layangan ini biasanya membentuk sekaa (perkumpulan) layangan.