Hari raya Nyepi adalah hari raya untuk memperingati tahun baru Caka yang dirayakan oleh umat Hindu. Hari raya Nyepi atau biasa disebut rahinan Nyepi ini datangnya setiap 1 tahun sekali. Perayaan Nyepi dilakukan dengan melakukan Catur Brata Penyepian yang meliputi : Amati Geni (tidak menyalakan api/cahaya), Amati Karya (tidak melakukan pekerjaan), Amati Lelungan (tidak bepergian), Amati Lelanguan (tidak berfoya-foya / tidak melampiaskan indrya).
Ada hal menarik bagi kita dalam Nyepi ini. Sejauh yang kita tahu sama sekali tidak ada larangan ataupun ajaran untuk melakukan puasa (tidak makan/minum) pada saat hari raya Nyepi. Walaupun disebutkan larangan untuk menyalakan api/cahaya (Amati Geni) yang membuat kita tidak dapat memasak, namun masih dimungkinkan untuk makan makanan yang tanpa dimasak (buah-buahan) atau makanan yang sudah dimasak sebelum Nyepi.
Beberapa tahun belakangan ini kita melihat atau mengetahui ada umat Hindu yang melakukan puasa (tidak makan/minum) pada saat Nyepi, walaupun kita lihat masih jarang yang berhasil melakukannya. Memang itu bukanlah hak kita untuk mengatur bagaimana orang lain merayakan hari raya Nyepi, tapi perlu juga kita sadari hendaknya perayaan atau brata yang kita lakukan agar sesuai dengan ajaran agama yang kita anut.
Saya ada sedikit rasa khawatir atau curiga (namun saya tidak menuduh), puasa yang dilakukan adalah untuk ikut-ikutan agama lain. Dimana ada agama yang melakukan puasa sebelum hari raya tertentu. Memang puasa yang kita lakukan itu baik sekali apalagi bisa menahan godaan-godaan duniawi, tentunya akan sangat bagus untuk menerapkan Catur Brata Penyepian. Namun sebaiknya janganlah kita melakukan ajaran agama hanya karena ikut-ikutan agama lain.
Seperti contoh kasus pengucapan “Om Swastiastu” yang baru marak beberapa tahun terakhir ini, itu pun sampai dibuatkan iklan di televisi berupa ajakan untuk mengucapkan “Om Swastiastu” ketika bertemu atau memulai suatu pembicaraan yang mana sebelumnya “Om Swastiastu” hanya lazim digunakan untuk pembicaraan formal seperti rapat, dalam surat, dll. Dan banyak yang menyindir kita baru sadar untuk menggunakan kalimat itu ketika agama lain juga punya kalimat pembuka yang serupa.
Jadi intinya yang perlu kita lakukan adalah melakukan sesuatu memang dari keinginan kita sendiri, bukan atas dasar ikut-ikutan apalagi hanya karena gengsi. Semoga saja apa yang saya pikirkan diatas (puasa karena ikut-ikutan) tidaklah benar. Atau mungkin wawasan dan pengetahuan saya yang masih sangat sempit, jadi kalau memang ada kesalahan, mohon dikoreksi.
NB. Semua hal diatas murni pendapat pribadi saya dengan segala keterbatasan saya.
4 tanggapan so far ↓
gustov // September 16, 2008 pada 3:10 pm |
SALAM SEJAHTERA SOBAT,
ANDA SANGAT PURITAN SEKALI, MUDAH2AN BISA MENCERAHKAN UMAT ANDA, SALAM DARI SAUDARA ANDA YANG MUSLIM
wira // Oktober 30, 2008 pada 3:45 am |
@gustov
terima kasih, semoga damai selalu…
adi // Januari 14, 2009 pada 5:36 am |
MENURUT SAYA ASALKAN DILAKUKAN DENGAN HATI YANG TULUS IKLAS TUHAN PASTI AKAN MEMBERIKAN YANG TERBAIK!! SALAM SEJAHTERA SAHABAT!
wira // Agustus 24, 2009 pada 2:49 am |
@adi : saya setuju sekali dengan anda