Party.. Party.. Party.. (Kita vs Mereka)
Indonesia telah merdeka, begitu yang diajarkan kepada kita. Tapi tidak yang kurasakan, aku masih merasa dijajah, di rumahku, di tanah kelahiranku, di tanah nenek moyangku. Mereka menjajah dengan uang, kita menjadi pembantu di rumah kita sendiri, mereka menjadi tuan di tanah kita. Mereka punya uang, kita butuh uang, tanah air pun kita jual kepada mereka, lalu kita bekerja kepada mereka, menjadi tukang kebun, tukang masak, sopir, house keeping, security, etc. Dan kita memanggil mereka Big Boss.
Lihatlah, villa yang ada kini di kampung halamanku, tak terhitung lagi jumlahnya, tak terhitung lagi luasnya tanah yang mereka kuasai. Ada yang bilang mereka menyerang dari belakang, maksudnya tanah yang dibeli mulai dari pinggir sungai, pinggir sawah, pinggir kuburan, dll, yang akhirnya merangsek kita sedikit demi sedikit. Mungkin beberapa tahun lagi semua akan kita jual, lalu kita menjadi pengemis di bumi Bali ini, kita hanyalah babu bagi mereka, budak mereka.
Ini salah siapa? Atau mungkin hanya aku yang melihat ini sebagai suatu kesalahan?
Perih rasanya hatiku, jiwaku menangis, mereka berpesta pora diatas tanahku (tepatnya bekas tanahku) . Party.. Party.. Party.. Lengkaplah luka kita, yang tak pernah kita sadari…
Suka = Duka
Beginilah rasanya, ada suka dan tentu ada duka. Dimana-mana pasti seperti itu, dimanapun anda bekerja, apapun profesi anda termasuk menjadi dosen ato guru seperti aku ini. Orang lain mungkin melihat menjadi guru ato dosen ato pekerjaan yang gampang, santai, banyak duit, dll. Tapi…. tidak sesimpel itu, tidak segampang itu, banyak susahnya juga.
Yang akan aku ceritakan ini hanyalah salah satu dari sekian banyak duka yang ada. Beberapa hari yang lalu ketika mengajar di SMK ******, mengajar di kelas XI (kelas 2 SMK-Red), murid dalam kelas ini berjumlah 26, karena jumlah komputer di Lab hanya 20 unit, itu pun ada beberapa yang rusak total, jadi setiap ngajar yang masuk Lab hanya setengahnya yaitu 13 siswa. Nah, pas kejadian ini ternyata yang datang ke Lab hanya 7 siswa, 6 siswa lainnya tidak datang alias bolos. Kontan saja hatiku jadi panas dan emosiku memuncak, tapi aku berusaha sabar, berusaha bijaksana, aku menasehati 7 orang siswa yang ada agar tidak seperti yang bolos itu dan kemudian memberi pengumuman melalui pengurus kelas yang ada agar minggu depan masuk Lab semua karena ada sesuatu yang akan aku bicarakan.
Memang sih, selama ini aku selalu longgar, jika ada yg tidak datang, aku maklumi, aku tidak marah, tapi selama ini hanya ada dan pernah seperti itu hanya 1 siswa dan sudah kucatat. Aku selalu minta kejujuran dari mereka sendiri, dan aku beritahu mereka bahwa jika mereka tidak serius belajar yang rugi mereka sendiri. Aku bersikap begini karena tidak ingin murid-muridku jadi takut padaku, karena ilmu yang kuajarkan tidak akan berhasil mereka terima dalam ketakutan. Mungkin memang sikapku yang terlalu longgar yang menyebabkan mereka begitu, aku memang sedikit menyalahkan diri sendiri.
Kembali ke cerita tadi, entah ada salah seorang dari mereka yang tidak bolos yang mengirim sms, ato memang kesadaran sendiri, akhirnya 6 siswa yang berencana bolos itu datang ke Lab, walaupun sudah telat 30 menit, tapi aku maafkan mereka walaupun mereka tidak ada minta maaf. Aku meredakan marahku, entah dari tadi mereka tau atau tidak aku sedang marah (kayaknya sih mereka tau). Aku lanjutkan mengajar sembari memberi sedikit ceramah pada yang baru datang.
Dari sini aku juga belajar, belajar untuk menjadi pengajar yang lebih baik dan juga berharap agar mereka menjadi murid yang lebih baik sehingga kelak mereka menjadi orang yang sukses, walaupun mungkin tidak akan mengenalku lagi jika nanti bertemu.
Butiran Air Di Bulan Nopember
6 Nopember 2006, 08:30
Pagi ini sang mentari malas menampakkan diri, mirip diriku yang malas masuk kerja hari ini. Sembari membaca Jawa Pos di depan kamarku, langit pun semakin gelap, awan hitam menggantung diatas sana.
Butiran-butiran air akhirnya jatuh dari langit menandai dimulainya musim hujan. Hujan ini telah kunantikan, untuk menyejukkan panas terik mentari yang telah mengeringkan jiwaku.
Kini air berlimpah telah datang, menyapu semua debu dan kotoran diatas atap dan dedaunan. Udara terasa segar, begitu juga perasaanku. Kulanjutkan hari ini dengan semangat baru, hari-hari yang lebih sejuk, tanpa terik panas sang mentari dan juga tanpa debu yang selalu mengotori pikiranku.